Fresh Graduate Catet! 5 Hal Ini yang Buat Kamu Susah Kerja

susah kerja alc talent
Daftar isi

Lulus kuliah dan terjun ke dunia kerja sering kali nggak semudah yang dibayangkan. Kamu sebagai fresh graduate semangat apply ke berbagai lowongan, tapi tetap nggak kunjung dapat panggilan. Perasaan minder mulai muncul, apalagi kalau lihat teman-teman udah banyak yang kerja. Tidak apa-apa, perasaanmu itu valid dan sangat wajar. Tapi sebelum menyalahkan nasib, coba deh evaluasi lagi. Adakah hal yang bikin kamu susah kerja?

Sebuah riset tahun 2024 menemukan bahwa tingkat pengangguran lulusan universitas mencapai 5,34%, lebih tinggi dari rata-rata nasional (4,86%). Lebih jauh lagi, hanya sekitar 53% fresh graduate yang bekerja sesuai bidang studinya, sementara 40% perusahaan menilai lulusan masih kurang kompeten untuk posisi yang dibutuhkan. 

Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara dunia kampus dan kebutuhan industri. Artinya, selain ijazah, fresh graduate juga butuh pengalaman praktis dan penguasaan skill yang relevan biar bisa lebih siap kerja. Makanya penting banget buat mulai persiapan kerja dari sekarang, biar peluang lulus kuliah langsung kerja bisa lebih besar.

Jika kamu merasa sudah punya skill yang relevan, bisa jadi kamu belum tahu cara menunjukkan itu ke recruiter/HRD. Artikel ini akan membahas 5 hal utama yang sering jadi penyebab fresh graduate susah kerja, plus solusi konkretnya. Yuk kita bongkar satu-satu!

Pertama, CV-mu Tidak Relevan

Masih banyak yang buat CV seperti daftar riwayat hidup biasa: panjang, penuh informasi, tapi nggak fokus. Padahal, HRD hanya butuh waktu 6–10 detik untuk screening CV. Kalau dalam waktu itu mereka nggak melihat sesuatu yang match, ya langsung diskip.

Misalnya, kamu apply posisi social media officer, tapi isi CV-mu lebih banyak soal pengalaman jadi ketua panitia dan lomba pidato. Memang itu menunjukkan kamu aktif, tapi tidak ada hubungannya dengan posisi yang kamu incar.

Solusinya, kamu bisa lakukan 4 langkah ini:

– Baca deskripsi lowongan dengan seksama.

– Soroti pengalamanmu, tools yang kamu kuasai, dan kemampuan/skills yang dibutuhkan dunia kerja.

– Kalau nggak punya pengalaman kerja, kamu bisa tulis pengalaman organisasi, magang, atau proyek kampus yang relevan. Inget, yang relevan ya dengan jobdesknya.

– Gunakan kata kunci dari lowongan di CV-mu. Misalnya, kalau mereka cari “kandidat yang bisa menggunakan Canva dan analisa insight Instagram”, 

Jadi, ringkasan yang bisa kamu tulis di CV-mu: “Membuat konten promosi di Canva dan menganalisa insight Instagram pada akun organisasi kampus”

Baca Juga : Lulus Kuliah Masih Nganggur? Yuk Lakukan 3 Langkah Ini

Kedua, Kamu Tidak Bisa Jelasin Siapa Dirimu

Pertanyaan “Ceritakan tentang dirimu” itu jebakan manis di setiap interview. Jawaban yang tepat bisa jadi kunci kamu untuk lolos wawancara kerja dan ninggalin kesan positif ke HRD. Banyak fresh graduate yang jawab terlalu datar atau terlalu panjang, bahkan cenderung out of topic

Contohnya, kalau kamu jelasinnya seperti ini:

“Saya lulusan Universitas X, umur saya 22 tahun, hobi saya baca buku dan traveling…”. Itu kurang menjual, karena tidak menunjukkan skillsmu sebagai kandidat.

Solusinya bisa seperti ini, gunakan struktur singkat tapi kuat:

– Siapa kamu (latar belakang pendidikan atau pengalaman singkat)

– Apa kelebihan atau skill utama

– Apa yang sedang kamu cari (tujuan karier)

Contoh:

“Saya adalah lulusan Ilmu Komunikasi dengan pengalaman magang sebagai content writer di startup edukasi. Saya senang menulis, teliti, dan mampu bekerja cepat di bawah tekanan. Saya sedang mencari peluang untuk mengembangkan kemampuan digital marketing lebih dalam, terutama di media sosial.”

Baca Juga : Fresh Graduate Catet! Ini yang Buat Kamu Gagal Interview

Ketiga, Malas Belajar Hal Baru

Banyak yang merasa setelah lulus, fase belajar selesai. Padahal, dunia kerja justru mengharuskan kamu belajar terus. Kalau kamu apply posisi marketing, misalnya. Tapi bahkan nggak ngerti Google Ads atau Meta Ads, ya wajar kalau kamu susah dilirik.

Contoh real-nya:
Kamu lamar jadi UI/UX designer tapi belum pernah coba tools seperti Figma atau belum ngerti dasar-dasar design thinking. Recruiter akan lebih memilih kandidat lain yang setidaknya sudah belajar secara mandiri lewat kursus online.

Solusi:

– Ikuti kursus gratis atau murah di platform online

– Ikut webinar atau bootcamp, Bootcamp Siap Kerja salah satunya

– Pelajari tools yang sering tertera di lowongan kerjamu.

Waktu luang setelah lulus itu kesempatan emas buat upgrade diri. Biar saat interview nanti kamu bisa bilang:

“Saya belum punya pengalaman kerja, tapi saya sudah menyelesaikan kursus dasar Google Ads dan membuat simulasi campaign sebagai portofolio.”

Ikut Pelatihan Siap Kerja atau Program Bootcamp juga bisa jadi cara efektif buat nunjukin ke recruiter kalau kamu serius upgrade diri.

Baca Juga : 5 Alasan Pentingnya Soft Skill dalam Dunia Kerja, Nomor 3 Membuat Karir Melesat

Keempat, Kurang Bangun Personal Branding

Kalau kamu nggak punya pengalaman, yang bisa kamu tonjolkan adalah bagaimana kamu memposisikan diri sebagai profesional. Sayangnya, masih banyak fresh graduate yang cuek dengan personal branding.

Contoh:
LinkedIn kamu kosong, bio-nya cuma “Mahasiswa aktif”, nggak ada aktivitas, nggak ada portofolio, dan foto profilnya juga kurang profesional.

Coba deh kamu bangun LinkedIn-mu kayak gini:

– Aktiflah di LinkedIn: posting pemikiran, review buku, atau insight dari webinar.

– Buat portofolio online : bisa pakai Notion, Behance, atau Google Drive yang mudah.

– Gabung komunitas yang sesuai bidangmu dan nimbrung diskusi.

Sekali lagi, personal branding itu bukan buat pamer kok. Tapi biar kamu terlihat layak direkrut bahkan sebelum HRD ketemu kamu langsung.

Kelima, Terlalu Pilih-Pilih Kerjaan

“Maunya kerja yang sesuai passion dan gaji UMR ke atas.”

Nggak salah sih, tapi kalau kamu baru lulus dan belum punya pengalaman apa-apa, mindset seperti itu justru bisa jadi jebakan.

Banyak banget fresh graduate nolak kerjaan dengan alasan “kerja tidak sesuai jurusan”, “nggak sesuai mimpi”, atau “nggak keren”. Akhirnya, peluang belajar dan berkembang malah terbuang.

Yuk perbaiki mindset itu dan mulai:

– Lihat setiap pekerjaan sebagai kesempatan belajar, bukan akhir dari segalanya.

– Kamu bisa mulai dari posisi entry level, lalu naik seiring waktu dan pengalaman.

– Fokus ke: “apa yang bisa aku pelajari dari sini?”

Contohnya:
Kamu lulusan Sastra Inggris tapi dapat kerja pertama sebagai admin. Dari situ kamu bisa belajar komunikasi bisnis, email formal, spreadsheet, hingga alur kerja perusahaan—dan itu semua skill berharga tahu.

Mindset terbuka kayak gini bikin jalanmu lebih Cepat Kerja dan ngumpulin pengalaman berharga untuk level karier berikutnya.

ALC Punya bootcamp Terbaik Untuk Kamu Yang Mau Cepat Kerja

Nаh, kalau kаmu mаu cepat kеrjа ѕеkаlіguѕ bangun karir lebih melesat, kаmu bіѕа mеngіkutі рrоgrаm bооtсаmр siap kеrjа ALC Talent.  

Kamu jadi punya pengalaman internship di top companies Indonesia. Dibimbing membuat CV menarik plus cara sukses wawancara.  Mendapat support penyaluran kerja. Belajar & konsultasi langsung dengan mentor expert. Plus punya sertifikat 12 skills ALC Talent yang membuatmu dicari banyak perusahaan. Detil klik banner dibawah ini ya.

Bootcamp Siap Kerja
  • 10/06/2026
  • 19.00-21.00